Mengapa Jumlah Petani Indonesia Terus Berkurang?

Mengapa Jumlah Petani Indonesia Terus Berkurang?

Meski Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, namun perekonomian Indonesia pada beberapa sektor masih dalam keadaan yang ironis, terutama pada sektor pertanian dan perikanan. Indonesia sebagai negara yang kaya akan hasil bumi, justru memiliki petani dan nelayan yang mayoritas masuk kedalam kelompok termiskin.

Menurut tribunnews.com sejak tahun 2010-2017, persentase populasi petani terus mengalami penurunan sebesar 1.1% per tahunnya. Pada tahun 2010, setidaknya terdapat 42.8 juta jiwa masyarakat Indonesia yang menggeluti bidang bercocok tanam ini, namun pada tahun 2017 angka tersebut turun menjadi 39.7 juta jiwa.

Pada bulan Februari 2019, tenaga kerja sektor pertanian di Jawa Tengah mengalami penurunan dari semula 28.51% menjadi 26.24%. Menurut anggota komisi E DPRD Jawa Tengah (Jateng) Riyono, bila pemerintah provinsi dan pemerintah kota tidak segera mengambil langkah untuk regenerasi petani-petani, maka akan timbul ancaman kekurangan pangan dalam sepuluh tahun mendatang.

Mengapa minat menjadi petani berkurang?

Ada banyak faktor yang menjadi alasan utama mengapa jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya. Artikel ini akan membahas 4 faktor terbesar mengapa minat untuk menjadi petani semakin berkurang.

1. Faktor Ekonomi
Alasan pertama mengapa petani tidak melanjutkan usahanya adalah pendapatan dari sektor pertanian tidak lagi mencukupi dan menjadi sandaran untuk menghidupi petani. Pada Maret 2019, nilai tukar petani turun 0.21% dari bulan sebelumnya. Belum lagi kemungkinan gagal panen yang terus menghantui para petani membuat mata pencaharian sebagai petani menjadi sangat beresiko.

2. Faktor Alam
Pekerjaan petani sangat memanfaatkan alam, itu sebabnya petani sangat bergantung padanya. Alam adalah anugerah sekaligus ancaman nyata bagi petani. Alam menjadi ancaman bagi petani karena setiap ada serangan hama, bencana banjir, kekeringan, dapat mengakibatkan kerugian yang signifikan bagi usaha pertanian.

3. Faktor Konversi Lahan
Faktor ketiga adalah faktor konversi lahan pertanian yang diubah menjadi lahan infrastruktur seperti jalan raya dan juga jalan tol.  Petani dipaksa untuk menjual atau meninggalkan lahannya karena kepentingan pembangunan ataupun kebijakan tata ruang.

4. Faktor Mindset Petani
Perkembang teknologi dan industri pertanian mendorong terjadinya pergantian sosial dan kearah masyarakat yang lebih modern. Proses modernisasi tersebut dapat mengubah mindset dan paradigma dari masyarakat.

Faktor tersebut pula yang melatarbelakangi timbulnya mindset atau paradigma petani sehingga profesi petani dianggap sudah tidak relevan pada kemajuan zaman.

Sebagian besar masyarakat Indonesia berpandangan bahwa petani adalah profesi yang miskin, dan menjadi petani merupakan pekerjaan yang susah dan tidak menjadi keinginan.

Bahkan sebagian besar orang tua yang berprofesi sebagai petani melarang anaknya untuk menjadi petani, sekalipun petani dengan wawasan luas dan teknologi yang maju.

Beranjak dari situlah Ekosis memiliki visi dan misi untuk mengedepankan nasib petani dan mensejahterakan kehidupan para petani. Melalui teknologi dan metode berjualan yang lebih mudah, cepat, dan jauh menguntungkan.

Ekosis menjadi pilihan yang tepat bagi pelaku agribisnis untuk melejitkan penghasilan mereka. Dengan menggabungkan teknologi penjualan dan pemasaran terkini, Ekosis dapat menarik minat petani-petani muda untuk meneruskan bisnis agraris di Indonesia dan mengubah pola pikir bahwa petani adalah kalangan miskin dan gagap teknologi.

Ekosis Marketplace agribisnis juga memberikan pelayanan transaksi yang aman dan nyaman sehingga para pelaku agribisnis tidak perlu khawatir adanya kasus penipuan terhadap barang yang dijual ataupun dibeli. Pengalaman jual/beli produk agraris tidak pernah semudah dan senyaman ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *