Tantangan Terbesar Nelayan Indonesia

Tantangan Terbesar Nelayan Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara maritim yang tentunya bergantung kepada pemasukan industri kelautan dan perikanan. Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan jumlah nelayan Indonesia pada tahun 2019 mencapai sekitar 1.3 juta jiwa dan telah menjadi sektor penting dan signifikan pada negara Indonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar kedua juga bergantung pada nelayan-nelayan Indonesia yang tentunya akan meningkatkan PDB (Pendapatan Domestik Bruto) dalam negeri.

Menurut data 2018, setidaknya 20 sampai 48 persen nelayan dan 10 hingga 30 persen pembudidaya masih tergolong miskin. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi miskin pada nelayan dan pembudidaya ikan seperti:

1. Harga Jual Hasil Tangkap Terlalu Murah
Biaya produksi yang mahal serta harga jual yang terlalu murah menjadi salah satu tantangan yang harus dialami oleh para nelayan terutama usaha kecil dan menengah yang terlampau jauh lebih rendah dibandingkan pengusaha perikanan berskala besar.

2. Metode Tradisional Yang Masih Banyak Digunakan Nelayan
Metode tradisional yang digunakan oleh sebagian besar nelayan dan pembudidaya juga memberikan tantangan tersendiri bagi para nelayan nusantara. Mulai dari kegiatan penangkapan ikan, budidaya, pengolahan dan perdagangan, semuanya masih diterapkan secara konvensional.

Ketua Penasihat Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan Rokhim Dhuri berkata dari 625,633 unit kapal ikan yang tercatat, setidaknya hanya 3,811 yang tergolong modern. Tidak hanya itu, isu tradisional ini juga merambah hingga tambak udang. Rokhim juga menyatakan dari 380,000 hektare tambak udang di Indonesia, hanya sekitar 10 persen yang dikelola menggunakan teknologi modern.

3. Suku Bunga Pinjaman Yang Tinggi
Suku bunga pinjaman tinggi yang diberikan kepada nelayan membuat mereka semakin sulit keluar dari angka kemiskinan. Menurut data statistik yang diambil pada tahun 2019 dari situs detikfinance, Indonesia termasuk dalam negara dengan pemberi 17-18 persen.

Beranjak dari situlah Ekosis memiliki visi dan misi untuk bersama-sama membangun dan mensejahterakan pelaku agribisnis seperti nelayan, peternak, dan petani. Kami berambisi untuk membuat sebuah ekosistem yang dimana nelayan bisa berjualan dan memanfaatkan teknologi  terkini yang tentunya digunakan untuk keuntungan mereka.

Dengan menggunakan platform jual/beli (marketplace) Ekosis, pelaku bisnis dapat bertransaksi dengan sangat mudah, aman, dan nyaman. Tidak hanya itu, Ekosis juga memiliki fitur informasi keterlacakan (traceability) produk agri yang valid dan dapat diakses dengan mudah oleh siapapun, sehingga meningkatkan reputasi dan kepercayaan terhadap produk agri yang dijual dalam platform Ekosis. Dengan menggunakan Ekosis, para pelaku agribisnis dapat dengan  mengembangkan bisnisnya menjadi lebih besar dan luas!

Informasi lebih lanjut tentang Ekosis bisa dibaca disini.

Untuk mengetahui update terkini dan info menarik seputar agribisnis lainnya bisa follow Instagram dan Facebook kami.

Foto oleh Darwis Alwan dari Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *